Pemasalahan Lingkungan: Keadaan Lingkungan Secara Global

 

Permasalahan Lingkungan: Keadaan Lingkungan Secara Global

 

Wahyu Hidayattulloh

Jurusan Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Tanjungpura

e-mail : F1071221042@student.untan.ac.id

 

PENDAHULUAN

Kerusakan lingkungan dari hari ke hari semakin mengancam kelangsungan makhluk hidup bumi, permasalahan lingkungan semakin lama makin menakutkan seiring dengan perkembangan industri dan pertambahan jumlah penduduk yang tidak bisa dikontrol, kualitas lingkungan dunia makin memprihatinkan hingga ada yang tidak dapat dipulihkan kembali seperti pada awalnya (irreversible environmental damage).

Kualitas lingkungan yang terganggu, seperti habisnya sumber daya alam, tercemar serta rusaknya lingkungan, tidak terlepas dari pemanfaatan sumber daya alam yang seenaknya dan berlebihan tanpa memikirkan efek jangka panjang. (over exploitation of natural resources).

Meningkatnya pencemaran dan perusakan lingkungan adalah menempatkan kepentingan manusia di atas kepentingan makhluk lainnya. Oleh karena itu, segala sesuatu yang ada di alam dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia semata. Keberadaan lingkungan diperuntukkan semata-mata untuk kepentingan manusia. Kepedulian manusia untuk menjunjung keberlanjutan hidup dan alam yang tercermin dalam nilai nilai kearifan lokal yang menjunjung konsep pemeliharaan lingkungan, juga mulai pudar seiring dengan meningkatnya tuntutan hidup manusia dalam memenuhi kebutuhannya yang berimplikasi terhadap permasalahan lingkungan yang terjadi secara global.

 

PEMBAHASAN

 

1.      Pemanasan Global

 

a.) Pengertian Pemanasan Global

Pemanasan global merupakan perubahan iklim yang dipicu oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer peningkatan tersebut disebabkan atas kegiatan manusia di berbagai sektor seperti industry, transportasi, pertambangan dan pertanian. Bukti ilmiah telah menunjukkan bahwa perubahan iklim menghadirkan resiko global yang sangat serius dan membutuhkan respon global secara cepat, pemanasan global umumnya mengacu pada komponen antropogenik dari perubahan iklim dan memanaskan permukaan yang terkait dengannya. Uap air, karbon dioksida, metana, nitrogen oksida, dan kloroflurokarbon (CFC) adalah gas utama yang bertanggung jawab atas pemanasan global, dengan gas rumah kaca sebagai penyebab utamanya. Manusia memperburuknya dengan menebang pohon yang seharusnya menyerap gas dan menambahkan gas rumah kaca lainnya di luar proses alami.

 

b.) Penyebab Pemanasan Global

Varietas intensitas matahari. Bumi mendapatkan kehangatan dari matahari, jadi masuk akal untuk berasumsi bahwa salah satu penyebab pemanasan global mungkin dari bintang kita. Sementara jumlah energi yang berasal dari matahari bervariasi dan mungkin telah menyebabkan pemanasan di masa lalu. Hal ini telah dikesampingkan NASA dan Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) sebagai penyebab pemanasan saat ini.

Aktivitas industri. Manusia telah membakar bahan fosil seperti batu bara dan minyak bumi untuk energi sejak revolusi industri, melepaskan karbon dioksida ke atmosfer pelepasan gas-gas tersebut atmosfer menyebabkan naiknya tingkat emisi gas rumah kaca yang mengakibatkan naiknya suhu dan kecenderungan pemanasan global yang sangat tinggi.

Aktivitas pertanian. Penyebab lain dari aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan iklim adalah praktik pertanian yang ditujukan untuk menghasilkan makanan. Penggunaan pupuk komersial ataupun pupuk organik pelepasan gas rumah kaca yang kuat nitrogen oksida, metana dan gas rumah kaca lainnya, banyak berasal dari sumber alami tetapi sistem pencernaan hewan untuk pembuatan daging telah berkembang serta dekomposisi limbah TPA dan Biomas burning.

Deforestasi atau penggundulan hutan. Meningkatnya permintaan daging dan sapi perah serta aktivitas dengan tujuan tercapainya kebutuhan ekonomi berdampak dari pembukaan lahan baru di wilayah hutan atau pepohonan, contohnya Penebangan pohon dengan tujuan menjual, pembuatan kertas, serta pembukaan lahan untuk pembangunan juga meningkat, dan ada juga yang dilakukan secara ilegal. Deforestasi menyumbang 15% dari gas rumah kaca yang berada di atmosfer, rata-rata penggundulan hutan (deforestation) di Indonesia mencapai 1,7 juta hektare per tahun. Bank Dunia (World Bank) dalam laporannya tahun 2000 memprediksi bahwa alih fungsi lahan dan penggundulan hutan mencapai 2 juta hektare per tahun.

Earth on a Feedback Loop. Maksudnya adalah bumi menampung lebih banyak air dari daratan, dan kondisi saat ini gas rumah kaca yang melimpah di atmosfer, saat atmosfer menghangat ini akan menimbulkan reaksi umpan balik yang berulang hal ini menyebabkan dipercepatnya pemanasan global, serta perubahan iklim lainnya dari pencairan lapisan es dan membuat lautan makin panas.

 

c.) Dampak Pemanasan Global

Dampak pemanasan global sehubungan dengan lokasi geografis atau vegetasinya, geografi satwa liar sangat dipengaruhi oleh iklim, yang menentukan secara spesifik fisiologis dari suhu, curah hujan, kelembaban sekitar, dan rezim kelembaban. Oleh karena itu menurunnya tingkat kelimpahan atau penyebaran spesies, karena tidak tahan terhadap perubahan iklim. Hal ini dapat dilihat dari menurunnya populasi burung puyuh di Amerika, penurunan ini disebabkan naiknya tingkatan karbon dioksida dan kenaikan suhu tinggi. Pemanasan global menekan reproduksi dapat dikaitkan dengan penurunan populasi puyuh, hal ini akan memperburuk jika dibiarkan hingga terjadinya hilangnya habitat dan segmentasi.

d.) Solusi Pemanasan Global

Perubahan iklim dilatarbelakangi terutama oleh penggunaan bahan bakar fosil dan kedua adalah segnisi gas rumah kaca melalui deforestasi, pertanian dan penyebab lain yang kurang menonjol. Cara utama untuk mengatasi Pemanasan global adalah dengan sebanyak mungkin menghilangkan posisi bahan bakar fosil dalam budaya kontemporer. Dan beralih menggunakan sumber daya terbarukan dan bebas karbon seperti matahari, angin, dan air yang menghasilkan kurang dari 3% emisi gas rumah kaca dan bahkan fosil. Kedua, dengan metode kehutanan tata guna lahan yang berkelanjutan, serta menghindari deforestasi karena tanaman menyerap dan menyimpan karboncdioksida dan efektif menghilangkan karbon dioksida di atmosfer. Pertama, mengurangi dan mencegah emisi gas rumah kaca yang termasuk karbon dioksida, metana, dan nitrogen oksida. Kedua, tingkat karbon dioksida dari lingkungan dengan memungkinkan pepohonan, lautan dan struktur alami lainnya yang berperilaku sebagai penyerap karbon yang dilakukan mereka secara alami. Dengan mengakhiri deforestasi kerusakan habitat laut dan mendorong kehutanan berkelanjutan kita dapat mendorong penghapusan gas rumah kaca dari atmosfer.

 

2.      Pencemaran Air

 

a.) Pengertian Pencemaran Air

pencemaran air menurut UU nomor 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup dan ppri Nomor 82 Tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup zat energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai peruntukannya.

 

b.) Sumber-sumber Pencemaran Air

Berdasarkan pendapat H.J. Mukono (2006) terdapat berbagai karakteristik sampah yang menjadi sumber pencemaran. Garbage, sampah yang terdiri dari sisa potongan hewan atau sayur-sayuran yang berasal dari proses pengolahan persiapan pembuatan dan penyediaan makanan. Rubbish, sampah yang mudah atau susah terbakar berasal dari rumah tangga pusat perdagangan dan kantor yang tidak masuk kategori garbage. Ashes (abu), merupakan sisa pembakaran dari bahan yang mudah terbakar baik di rumah kantor maupun industri. Street sweeping, berasal dari pembersihan jalan dan trotoar terdiri dari kertas-kertas kotoran dan dedaunan. Dead animal, bangkai hewan yaitu bangkai binatang yang mati karena bencana alam penyakit atau kecelakaan. Household refuse, sampah permukiman yaitu sampah campuran yang terdiri dari rubbish garbage ashes yang berasal dari permukiman. Abandoned vehicle, bangkai kendaraan yaitu sampah dari alat transportasi seperti pesawat kereta api dan lain-lain. Sampah industri, sampah yang berasal dari industri pengolahan hasil bumi tumbuh-tumbuhan dan industri lainnya. Demolition wastes, Sampah hasil penghancuran gedung atau bangunan yang berbentuk Abu sisa-sisa penghancuran bangunan. Sewage solid, terdiri dari benda kasar yang umumnya zat organik hasil saringan pada pintu masuk atau pusat pengolahan air buangan

 

c.) Parameter Kualitas Air

Dalam menentukan karakteristik limbah terdapat paramater paramater yang dipakai antara lain (Herlambang, 2018) yaitu parameter suhu, karena menyangkut kecepatan reaksi dan pengaruhnya terhadap kelarutan suatu gas bau dan rasa. Parameter rasa dan bau, parameter ini diakibatkan oleh material-material terlarut bau dan rasa merupakan sifat air yang subjektif karena sulit diukur tetapi bisa diidentifikasi seperti bau busuk bau gas rasa pahit dan asam. Parameter warna, air yang jernih transparan segar dan tidak bau merupakan indikator air bagus secara awam. Namun demikian untuk dapat membedakan antara air yang mempunyai warna asli akibat material terlalu dan warna semua akibat zat-zat yang tersuspensi. Parameter kekeruhan, kekeruhan dapat disebabkan oleh partikel-partikel tanah liat lempung Danau atau akibat limbah rumah tangga maupun Industri atau adanya mikroorganisme dalam jumlah besar. Parameter padatan, merupakan zat-zat tersuspensi atau terlarut dan dapat dibedakan dalam bentuk organik atau anorganik. Parameter konduktivitas, tergantung dari jumlah garam-garam terlarut pada suatu larutan. Parameter pH, aktivitas biologi biasanya dibatasi oleh rentang PH 6 sampai 8 jika tidak sesuai akan bersifat korosif atau akan sulit diolah. Parameter Oxidation Reduction Potential (ORP), nilai orp dapat dijadikan sebagai indikator kritis bagi beberapa reaksi oksidasi. Parameter alkalinalitas, alkalinalitas berguna dalam air maupun air limbah karena dapat memberikan buffer untuk menahan perubahan pH. Parameter asiditas, asiditas dari mineral hampir semuanya akibat limbah industri terjadi di bawah 4,5. Parameter kesadahan, sifat air yang mencegah pembentukan busa dalam pemakaian sabun dan dapat menimbulkan kerak dalam pemakaian peralatan yang berhubungan dengan pemakaian air panas. Parameter oksigen terlarut, kadar oksigen terlarut dapat berkurang secara cepat akibat air limbah banyak mengandung bahan organik. Parameter kebutuhan oksigen, mengukur jumlah kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk menstabilkannya dengan parameter BOD atau COD. Parameter nitrogen, konsentrasi nitrogen untuk masing-masing bentuk senyawanya saling berhubungan terhadap sifat-sifat dan daya cemar suatu air atau limbah cair. Parameter klorida, merupakan indikator pencemaran dari air limbah rumah tangga. Parameter biologi, hampir semua air limbah mengandung mikroorganisme misalnya air limbah rumah tangga

 

3.      Pencemaran Suara

 

a.) Pengertian Polusi

Polusi suara atau kebisingan, dalam konteks polisi lingkungan adalah suara berlebihan yang tidak menyenangkan dan tidak diinginkan atau komunis secara diatas batas-batas yang ditentukan di area tertentu yang dipancarkan dari sumber apapun yang menimbulkan efek fisiologis dan psikologis yang merugikan bagi manusia suara dapat menjadi tidak menyenangkan karena intensitas suara, waktu pemaparan, kontinuitas suara, dan frekuensinya

 

b.) Sumber dan Jenis Kebisingan

Semua sumber polusi suara ini dapat dikategorikan secara luas sebagai polutan kebisingan dari dalam ruangan dan luar ruangan. Polutan kebisingan dalam ruangan terkait aktivitas manusia di dalam bangunan serta pengoperasiannya, contohnya langkah kaki percakapan dan kipas angin atau AC. Polusi suara yang berasal dari luar ruangan merupakan sumber utama polusi suara. Kebisingan yang disebabkan oleh polutan luar ruangan sulit untuk dikendalikan dari sumbernya, contohnya dapat berasal dari lalu lintas kendaraan dari lingkungan perkantoran serta kebisingan dari wilayah industri.

 

c.) Dampak Kebisingan

Kebisingan berdampak pada kesehatan, kebisingan pada manusia dapat menimbulkan masalah psikologis dan fisiologis. Umumnya suara dianggap sebagai pencemar ketika intensitasnya lebih dari 60 dB polusi suara adalah psychosocial stressor yang mempengaruhi kesehatan subjektif dan kesehatan fisik. Paparan kebisingan untuk jangka waktu yang terus-menerus akan memiliki banyak masalah kesehatan yang serius, yang mungkin bersifat sementara atau permanen. Bahkan tingkat kebisingan yang relatif rendah mempengaruhi kesehatan manusia. Polusi suara ini dapat menyebabkan hipertensi, gangguan pendengaran, gangguan tidur, gangguan kognitif pada anak-anak, tinnitus, penurunan produktivitas, penyakit kardiovaskular, rasa takut dan frustasi, cacat sosial, perilaku sosial negatif, tekanan darah tinggi, kecemasan dan penyakit terkait stres, kehilangan memori, depresi berat, dan serangan panik

 

d.) Usaha Pengendalian dan Pengelolaan

Pengendalian polusi suara dipandang perlu dengan tujuan untuk menjaga baku mutu udara terhadap suara sesuai Permenkes No. 718/Men/Kes/Per/XI/1978, zona-zona kebisingan dibagi sesuai dengan titik kebisingan yang diizinkan. (1) zona a dengan intensitas 35-45 dB untuk Tempat penelitian Rumah Sakit Tempat perawatan kesehatan sosial. (2) zona B dengan intensitas 45-55 dB diperuntukkan bagi Perumahan Tempat pendidikan dan rekreasi. (3) zona C intensitas 50-60 dB perkantoran perdagangan dan pasar. (4) zona d dengan intensitas 60-70 dB bagi industri pabrik stasiun kereta api terminal bis dan sejenisnya. salah satu upaya untuk mengurangi polusi suara yaitu dengan mengadakan program kesadaran publik, pendidikan dan solusi teknologi namun pemerintah harus ikut, serta LSM juga memainkan peran penting dalam upaya pengurangan tingkat polusi suara. Serta aparat dengan menetapkan dan menegakkan aturan pedoman baku mutu suara yang berlaku.

 

4.      Polusi Udara

 

Partikulat adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron dapat berwujud padat ataupun cair (Sarna, 2014). Pencemaran udara adalah bertambahnya bahan atau substrat fisik atau bahan kimia ke dalam lingkungan udara normal yang dapat mencapai jumlah tertentu sehingga dapat dihitung atau diukur oleh manusia serta memberikan dampak pada manusia binatang maupun tumbuhan (Arwini, 2020).

Pencemaran udara secara umum dapat dibedakan menjadi dua yaitu pencemar primer dan pencemar sekunder. Sumber pencemaran dari aktivitas manusia dapat dibedakan ke dalam empat kelompok yaitu (1) Sumber bergerak, yaitu sumber tidak tetap pada suatu tempat yang berasal dari kendaraan bermotor. (2) Sumber bergerak spesifik, yaitu sumber yang tidak tetap pada suatu tempat yang berasal dari kereta api, Pesawat terbang, dan kendaraan berat lain. (3) sumber tidak bergerak, yaitu sumber emisi yang tetap pada suatu tempat. (4) sumber tidak bergerak spesifik, yaitu sumber emisi yang tetap pada suatu tempat yang berasal dari pembakaran hutan dan pembakaran sampah (PP No 42 Tahun 1999).

Pada umumnya dari berbagai sektor yang berpotensi dalam mencemari udara. Maka, sektor transportasi pemegang peran yang sangat besar dibandingkan dengan sektor lainnya. dengan presentase 60-70% berasal dari gas buang kendaraan bermotor, sementara 10-15% dari cerobong asap industri, dan sisanya berasal dari pembakaran lain (Ismiyati, 2019).

Gas yang terkandung dalam emisi gas buang kendaraan antara lain a karbon monoksida dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna dari senyawa karbon. Kloroflurokarbon (CFC), dapat menimbulkan penipisan ozon dan penurunan tingkat Ozon secara global. Hidrokarbon, metana dan etana. Oksida sulfur dan partikulat, sulfur dioksida gas buang yang larut dalam air yang langsung dapat terabsorpsi di dalam hidung dan sebagian besar saluran paru-paru. Oksida nitrogen merupakan gas paling beracun karena jika dibandingkan dengan SO2 maka NO2 dapat menembus saluran pernapasan lebih dalam. Dan Timbal sebagai bahan aditif pada bensin.

Secara umum dampak dari pencemaran udara terhadap kesehatan manusia dapat dikategorikan menjadi dua kelompok besar, yaitu yang menimbulkan efek jangka pendek dan efek jangka panjang, efek jangka pendek yaitu dari mulainya iritasi mata, hidung serta tenggorokan, yang kemudian akan menimbulkan efek jangka panjang jika dibiarkan, seperti kanker paru-paru, penyakit jantung, dan bisa juga menyerang otak dan hati (Ali, et al. 2019). Selain dari kesehatan pencemaran udara juga dapat merusak dan mencemari ekosistem yaitu dengan adanya hujan asam yang ditimbulkan dari sulfur oksida nitrogen oksida.

 

KESIMPULAN

Bumi memiliki keterbatasan untuk mendukung kehidupan makhluk hidup yang mendiami planet bumi. Oleh karena itu, manusia harus menjaga keberlangsungannya dengan bijak, jika kita menghendaki kehidupan yang baik dan terjaga di planet bumi yang hanya satu-satunya ini, sudah saatnya bagi umat manusia untuk lebih memperhatikan dan menjaga bumi yang kita pijak karena sampai dengan saat ini belum ada planet lain yang dapat menyediakan kehidupan dan keselamatan seperti bumi dan seluruh isinya. Pendeknya, bumi dan seluruh sumber daya alam yang ada di dalamnya tidak dapat dijadikan sebagai objek untuk pemenuhan kebutuhan dan kesenangan manusia belaka, tapi harus ditempatkan sebagai subjek yang setara dengan manusia karena keselamatan manusia sekarang dan anak cucu kita sangat tergantung pada kelakuan manusia saat ini. Sayangnya kualitas lingkungan dunia sudah sangat kritis, sehingga memerlukan kerja ekstra keras jika kita ingin mewariskan bumi yang lebih baik pada anak cucu kita.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdi, A.W., Rahma, F. (2018). TINGKAT KEBISINGAN SUARA TRANSPORTASI DI                  KOTA BANDA ACEH. Gea. Jurnal Pendidikan Geografi. 18(1). 10-22.

Aizebeokhai, Ahzegbobor. (2010). Global warming and climate change: Realities, uncertainties and measures. International Journal of Physical Sciences. 4. 868-879.

Ali, Danish & Brohi, Khan & Panhwar, Muhammad & Memon, Afaque & Bhutto, Aqeel. (2019). Effect of Air Pollution on Human Health in Manufacturing Industries at SITE Area, Hyderabad. Indian Journal of Science and Technology. 12(23).1-7.

Arif, Chusnul & Setiawan, Budi & Munarso, Deka & Nugraha, Muhammad & Sinarmata, Pradha & , Ardiansyah & Mizoguchi, Masaru. (2017). Potensi Pemanasan Global dari Padi Sawah System of Rice Intensification (SRI) dengan Berbagai Ketinggian Muka Air Tanah. Jurnal Irigasi. 11(2). 81-90.

Arwini, Ni. (2020). Dampak Pencemaran Udara Terhadap Kualitas Udara Di Provinsi Bali. Jurnal Ilmiah Vastuwidya. 2(1). 20-30.

González, Alice. (2014). What Does “Noise Pollution” Mean?. Journal of Environmental Protection. 05(4). 340-350.

Herlambang, Arie & Pusat, Peneliti & Lingkungan, Teknologi & Bppt,. (2018). PENCEMARAN AIR DAN STRATEGI PENGGULANGANNYA. Jurnal Air Indonesia. 2(1). 16-29.

Ismiyati, Ismiyati. (2019). Pencemaran Udara Akibat Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor. Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik (JMTransLog). 1(3).

Mukono, H,J., 2006, Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan, Airlangga, Surabaya.

Saklani, Nikita & Khurana, Ashli. (2019). Global Warming: Effect on Living Organisms, Causes and its Solutions. International Journal of Engineering and Management Research. 09. 24-26.

Sarna, K., et all. (2014). Hukum Lingkungan: Teori, Legislasi dan Studi Kasus. Jakarta: Kemitraan Partnership.

Sitorus, E., et all. (2021). Pengetahuan Lingkungan. Jakarta: Yayasan Kita Menulis.

Verma, Deepak. (2020). Investigation & Examination of Noise Pollution - Definition, Sources, Effects, Monitoring and Control. SSRN Electronic Journal. 10.(7). 182-207.

 

 

 

 

 

Komentar